3 Cara Mengantisipasi dan Mengatasi Problematika Sosial Fatherless Generation

Selama ini selalu dikagetkan oleh banyak pemberitaan yang berisi masalah anak-anak muda. Seperti dispensasi sekolah karena hamil di luar nikah, bahkan belum lagi kasus-kasus lainnya dengan penyimpangan perilaku yang telah muncul lebih dulu, bukan terselesaikan malah semakin banyak jumlahnya.



Adanya kasus bullying, kekerasan di kalangan anak, LGBT, pornografi, free sex, hamil di luar nikah, yang dulu hanya di lakukan segelintir orang dan dianggap tabu, kini menjadi hal yang dianggap biasa bahkan cenderung mulai terbentuk komunitas yang sama-sama saling tau apa yang mereka mau.

Mari berfikir zejenak untuk mengevaluasi apakah keluarga kita berpotensi menghadapi ancaman yang sama? pernahkan mendengar istilah Fatherless Generation? Bagaimana kaitan antara ketiadaan peran ayah dengan problematika sosial yang terjadi?

Bagaimana cara mengantisipasi agar keluarga kita tidak mengadapi problematika serupa? Bagaimana mengatasinya jika hal itu terlanjur terjadi dalam keluarga kita? Mengantisipasi dan Mengatasi Problematika Sosial Fatherless Generation.

Selama ini masih banyak anggapan di masyarakat bahwa pengasuhan seorang anak adalah tugas seorang ibu saja. Padahal pengasuhan seorang anak, terlebih di masa kanak-kanak dan remaja, adalah tugas kedua orangtua. Peran ayah juga penting dalam mengiringi tumbuh-kembang anak.

Kurangnya atau bahkan ketidakhadiran peran ayah dalam pengasuhan dan tumbuh-kembang anak bisa berdampak pada kehidupan anak di masa dewasanya. Kondisi ini disebut dengan "fatherless." Yuk, simak penjelasan yang telah dirngkum tentang pengertian fatherless, berikut ini.

Apa itu fatherless?

Istilah "fatherless" pertama kali diperkenalkan oleh Edward Elmer Smith. Smith adalah seorang psikolog asal Amerika Serikat.

Menurut Edward Elmer Smith, fatherless adalah ketiadaan peran ayah dalam perkembangan seorang anak. Ketiadaan peran ini dapat berupa ketidakhadiran, baik secara fisik maupun psikologis dalam kehidupan anak.

Walaupun seorang ayah hadir secara fisik dan materi, tetapi jika secara emosional dan psikologis ia tidak memenuhinya, maka seorang anak bisa mengalami kondisi fatherless.

Mengenal fenomena "fatherless" dan pentingnya peran ayah untuk anak

Fenomena fatherless mungkin kurang awam di tengah kalangan masyarakat. Namun ternyata, fenomena fatherless atau ketidakhadiran seorang ayah baik secara fisik atau psikologis dalam kehidupan anak, rupanya cukup besar di Indonesia.

Fatherless diartikan sebagai anak yang bertumbuh kembang tanpa kehadiran ayah, atau anak yang mempunyai ayah tapi ayahnya tidak berperan maksimal dalam proses tumbuh kembang anak dengan kata lain pengasuhan. 

Krisis peran pengasuhan dari ayah seringkali disebabkan oleh peran gender tradisional yang masih diyakini oleh masyarakat Indonesia.

Banyak kisah di masyarakat Indonesia yang menggambarkan fenomena fatherless, seperti sebuah keluarga miskin yang tidak memiliki figur ayah karena ibunya merupakan istri muda, keluarga kaya yang kehilangan figur ayah karena alasan sibuk bekerja dan sering bepergian keluar kota, atau tanpa sadar tidak menjadikan keluarga sebagai prioritas.

Adanya peran gender tradisional memosisikan ibu sebagai penanggung jawab urusan domestik dan ayah sebagai penanggung jawab urusan nafkah masih melekat di masyarakat. Padahal, tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh kehadiran dari kedua orang tuanya dalam pengasuhan.

Lebih lanjut, anak yang mengalami fatherless rata-rata merasa kurang percaya diri, cenderung menarik diri di kehidupan sosial, rentan terlibat penyalahgunaan NAPZA, rentan melakukan tindak kriminal dan kekerasan, kondisi kesehatan mental yang bermasalah, munculnya depresi hingga pencapaian nilai akademis yang rendah.

Hal tersebut umumnya terjadi karena anak kehilangan sosok ayah sebagai panutan dan pendamping hidup. Adanya kekosongan peran ayah dalam pengasuhan anak, terutama dalam periode emas, yakni usia 7-14 tahun dan 8-15 tahun sangat berpengaruh dalam urusan prestasi sekolah. Dampak fatherless bagi anak-anak yang bersekolah antara lain sulit konsentrasi, motivasi belajar yang rendah, dan rentan terkena drop out.

Meskipun anak memiliki ayah, namun mereka tidak mendapatkan pendampingan dan pengajaran dari sosok ayah maka tetap berdampak buruk bagi perkembangan masa depannya.

Kehadiran para ayah bisa menjadi idaman untuk anak dan istri dengan membuktikan rasa sayang atau cinta terhadap anak, seperti mengajak anak jalan-jalan, bersepeda, bahkan menemani permainan yang disukai oleh anak. Semisal anak perempuan, maka ayah pun tetap bisa menemaninya bermain boneka begitupun sebaliknya untuk anak laki-laki yang suka bermain bola maka luangkanlah waktu untuk bermain bersama.

Untuk menjadi ayah yang baik, tidak harus menjadi superdad seorang Ayah yang sempurna. Dari hal-hal yang simpel seperti meluangkan waktu, memberikan telinga untuk mendengarkan kisah dari anak-anak, memberikan kehangatan melalui ciuman, pelukan, atau bentuk kasih sayang lainnya, itulah yang diperlukan oleh anak.

Keterlibatan ayah dalam pendidikan anak merupakan kesempatan emas yang tidak akan terulang lagi. Bersama ibu, ayah bisa mendedikasikan waktunya untuk tumbuh kembang anak. Orang tua juga perlu untuk menmberikan dukungan satu lain dan

Mengantisipasi dan Mengatasi Problematika Sosial Fatherless Generation memberikan waktu bagi anak-anak.

Beberapa poin di bawah ini adalah solusi untuk menghadirkan figir ayah dalam keluarga, yaitu :

Meneladani Peran Nabi

Sosok ayah juga penting hadir sebagai guru agama bagi anak-anaknya sebagaimana para Nabi hadir untuk mengajari anak-anak mereka dalam risalah Ketauhidan.

Di antaranya, adalah kehadiran Nabi Muhammad SAW untuk anaknya Fatimah, Nabi Ya’qub AS terhadap anak-anaknya khususnya kepada Nabi Yusuf AS, Nabi Ibrahim AS kepada Nabi Ishak AS dan Nabi Ismail AS.

Begitu juga dengan Ali Imran kepada anaknya, Maryam, Ibunda Nabi Isa AS, dan peran Lukman kepada anaknya, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Suci Ummat Islam.

Berperan sebagai Kepala Sekolah

Jika sosok ibu berperan sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, maka seorang ayah harus mengambil peran sebagai kepala sekolah bagi anak-anak di rumah.

Sosok ayah harus membuat kurikulum pendidikan bagi anak-anak, menentukan langkah dan arah pendidikan serta pengasuhan anak, membuat target-target yang ingin dicapai sehingga sejak diri sudah tergambar bagaimana pola pendidikan yang diterapkan dalam keluarga.

Pola Pengasuham

Ayah harus hadir memberikan pengasuhan terhadap anak-anak dalam keluarga. Seorang ayah tidak sepantasnya memberikan pola pengasuhan kepada figur ibu semata karena seorang anak butuh sentuhan patriotisme dan keberanian sang ayah khususnya bagi anak laki-lakinya.

Bagi anak perempuan, sosok ayah adalah cinta pertamanya yang memberikan perhatian, kasih sayang, dan memenuhi kebutuhan jiwa sang anak.

Membesarkan Anak

Sosok ayah tidak boleh berdalih hanya sebagai tumpuan mencari nafkah sehingga kehadirannya hanya sebagai pencetak uang bagi anak-anaknya.

Setiap keinginan anak diberikan, tetapi tidak disertai dengan nasihat dan pendampingan yang memadai. Sosok ayah tidak bisa hanya berperan untuk membesarkan fisik anak, tetapi tidak ikut membesarkan jiwa anak-anak mereka.

Sahabat dan Teman Anak

Sesibuk apa pun seorang ayah, tetap harus punya waktu bagi anak-anak. Harus ada waktu khusus untuk mendampingi mereka, menjadi teman dan sahabat, sekaligus teman bermain atau teman curhat bagi anak-anaknya.

Dengan begitu, kecenderungan dan kegalauan sang anak dapat terdeteksi secara dini oleh ayah yang inspiratif, aspiratif, dan peka untuk perkembangan anaknya.

Penutup 

Itulah 3 Cara Mengantisipasi dan Mengatasi Problematika Sosial Fatherless Generation. Kehadiran Ayah sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak di masa yang akan datang. Untuk membesarkan anak tidak melulu bersama Ibu, melainkan Ayah harus ikut terlibat dalam pengasuhan anak.

Mungkin Kamu Suka

0 Komentar

Terima kasih sudah berkomentar. Semoga bermanfaat